DIBALIK AWAN
Karya: Rasid Maulana
Sidiq
Malam itu …!
Langit pun cerah ,
terpapar kilauan cahya Bintang,
laksana permata penghias
cakrawala.
Ku pandang dia penuh harapan ,
mendekam didadanya .
Ku pancarkan cahaya di dadaku.
Agar dia tahu ……………………….!
Ada satu pandang yang terbenam,
Dan tertanam dari waktu ke waktu
Ku ukir
diriku sendiri
Ku
ikat dengan tali pengikat yang amat kuat.
Agar
tak lari melawan kodrat.
Ku lihat kembali lembaran hidup yang basi.
Kendatipun tlah lari
Ternyata hidup kembali ,
membelit dalam diri yang semakin rapuh dimakan waktu.
Langit semakin kelam.
Tertutup awan hitam yang datang menghalang.
Menggalang dia kian tercekam.
Laripun tak mampu.
Karena tali pengikat yang tak mau rapuh.
Kulemparkan sebutir tiram dibalik awan hitam yang
menggalang.
Biarkan dia hidup di alam nya sendiri.
Tak kuasa bagiku tuk diam ,
dalam kehidupanya yang tergenang dibalik awan yang
mengengam.
SANG PENYAIR
Karya : RASID MAULANA
SIDIQ.
Hari itu ………………………..!
Ku duduk seorang diri.
Menatap jauh menembus gelapnya
malam.
Mencari seberkas sinar yang
dahulu padam
Termakan rayuan sang pendusta
alam.
Kubuka dan kucari kian kemari.
Lembaran memori yang lari ketepian kali.
Ku coba menarik kembali.
Kendatipun susah ………………
Ku tetap gigih tak mau kalah.
Waktu itu ……………………….
jiwaku rapuh.
Terpesona akan ucapan sang
pujangga pengukir kata
Semuanya lenyap entah kemana.
Hilang daya,hilang perkara
Tak lagi Nampak dipelupuk mata
Itulah hebatnya sang penyair,
Mengukir kata merangkai basa.
Tiada menjadi ada.
Ada pun ada menjadi tiada
Hilang noda ,hilang cela.
Semuanya lenyap dimakan kata pamadu rasa.
Syairnya manis
Menutupi pahitnya ampedu
Ucapanya indah,menutupi kerusakan
jiwanya.
Itulah dia……………………
Penakluk mahkota pembawa tahta.
PEMBAKTI.
KARYA: RASID MAULANA SIDIQ
Tak salah jika kamu berkata.
Didadaku Cuma ada satu.
Satu tahta yang wajib ada.
Dialah Rajaku ,Pangeran pemamdu
waktu.
Tak ada lagi bagiku tuk berbagi.
Bagi kata mengalun sapa.
Tuk mereka diluarsanah.
Tak perduli………………………..!
Tak perduli lagi akan suasana
fana di padang hampa.
Disana memang ada cahaya.
Yang mungkin berarti bagiku,
Namun aku telah buta
Termakan sumpah baktiku,
Pada pemegang tahta pembangun nagri.
Aku pembakti sejati
Yang suci dari cela,
Jauh dari nista.
Demi keutuhan negriku
Panapun ga apa,
Asal dia bahagia dibawah baktiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar