Senin, 26 Maret 2012

PUISIKU



DIBALIK  AWAN
Karya: Rasid Maulana Sidiq
                             Malam  itu …!
                            Langit pun cerah ,
                            terpapar  kilauan cahya Bintang,
                            laksana permata penghias cakrawala.
Ku pandang dia penuh harapan ,
mendekam didadanya  .
Ku pancarkan cahaya di dadaku.
Agar dia tahu ……………………….!
Ada satu pandang yang terbenam,
Dan tertanam dari waktu  ke waktu
          Ku ukir diriku sendiri
          Ku ikat dengan tali pengikat yang amat kuat.
          Agar tak lari melawan kodrat.
Ku lihat kembali lembaran hidup yang basi.
Kendatipun tlah lari
Ternyata hidup kembali ,
membelit dalam diri yang semakin rapuh dimakan waktu.
        Langit semakin kelam.
        Tertutup awan hitam yang datang menghalang.
        Menggalang dia kian tercekam.
        Laripun tak mampu.
        Karena tali pengikat yang tak mau rapuh.
Kulemparkan sebutir tiram dibalik awan hitam yang menggalang.
Biarkan dia hidup di alam nya sendiri.
Tak kuasa bagiku tuk diam ,
dalam kehidupanya yang tergenang dibalik awan yang mengengam.







SANG PENYAIR
Karya : RASID MAULANA SIDIQ.
Hari  itu ………………………..!
Ku duduk seorang diri.
Menatap jauh menembus gelapnya malam.
Mencari seberkas sinar yang dahulu padam
Termakan rayuan sang pendusta alam.

           Kubuka dan kucari kian kemari.
           Lembaran memori yang lari ketepian kali.
           Ku coba menarik kembali.
           Kendatipun susah ………………
           Ku tetap gigih tak mau kalah.

Waktu itu ……………………….
jiwaku rapuh.
Terpesona akan ucapan sang pujangga pengukir  kata
Semuanya  lenyap entah kemana.
Hilang daya,hilang perkara
 Tak lagi Nampak dipelupuk mata

               Itulah hebatnya sang penyair,
               Mengukir kata merangkai basa.
               Tiada menjadi ada.
                Ada pun  ada menjadi tiada
               Hilang noda ,hilang cela.
               Semuanya lenyap dimakan kata  pamadu rasa.

Syairnya manis
Menutupi pahitnya ampedu
Ucapanya indah,menutupi kerusakan  jiwanya.
Itulah dia……………………
Penakluk mahkota pembawa tahta.



PEMBAKTI.
KARYA: RASID MAULANA SIDIQ

Tak salah jika kamu berkata.
Didadaku Cuma ada satu.
Satu tahta yang wajib ada.
Dialah Rajaku ,Pangeran pemamdu waktu.

Tak ada lagi bagiku tuk berbagi.
Bagi kata mengalun sapa.
Tuk mereka diluarsanah.
Tak perduli………………………..!
Tak perduli lagi akan suasana fana di padang hampa.

Disana memang ada cahaya.
Yang mungkin berarti bagiku,
Namun aku telah buta
Termakan sumpah baktiku,
Pada pemegang tahta pembangun nagri.

Aku pembakti sejati
Yang suci dari cela,
Jauh dari nista.
Demi keutuhan negriku
Panapun ga apa,
Asal dia bahagia dibawah baktiku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar